Tugas Pengembangan Media Pembelajaran

Disusun Oleh
Rayani Sri Karmita
ACC 114 046
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
2017
Langkah-langkah
pembuatan Media Audio Visual
Pembuatan media audio visual TV/Video pembelajaran
memerlukan beberapa tahapan kegiatan antara lain:
1. Tahap Pra Produksi
Pada tahapan ini terdapat
hal-hal yang diperlukan untuk sebuah proses pembuatan film pendek antara lain:
a. Ide cerita
Ide cerita adalah gagasan
utama yang nantinya akan dijadikan sebuah scenario. Sebelum membuat cerita
film, kita harus menentukan tujuan pembuatan film. Hanya sebagai hiburan,
mengangkat fenomena, pembelajaran/pendidikan, dokumenter, ataukah menyampaikan
pesan moral tertentu. Hal ini sangat perlu agar pembuatan film lebih terfokus,
terarah dan sesuai. Jika tujuan telah ditentukan maka semua detail cerita dan
pembuatan film akan terlihat dan lebih mudah. Jika perlu diadakan observasi dan
pengumpulan data dan faktanya. Bisa dengan membaca buku, artikel atau bertanya
langsung kepada sumbernya. Ide film dapat diperoleh dari berbagai macam sumber
antara lain: Pengalaman pribadi penulis yang menghebohkan, percakapan atau
aktifitas sehari-hari yang menarik untuk difilmkan, cerita rakyat atau dongeng,
biografi seorang terkenal atau berjasa. Adaptasi dari cerita di komik, cerpen,
atau novel, dari kajian musik, dll.
b. Skenario
Skenario adalah sebuah naskah
yang nantinya akan di pentaskan ataupun di gambarkan pemain pada sebuah
pertunjukan. Ada dua tugas utama penulis skenario yaitu menentukan plot yang
menarik dan menciptakan karakter yang unik. Jika penulis naskah sulit mengarang
suatu cerita, maka dapat mengambil cerita dari cerpen, novel ataupun film yang
sudah ada dengan diberi adaptasi yang lain.
c. Breakdown Skenario
Setelah naskah disusun maka
perlu diadakan Breakdown naskah yang memuat seluruh informasi detail yang
dibutuhkan tiap scene harus ada. Breakdown naskah dilakukan untuk mempelajari
rincian cerita yang akan dibuat film.
d. Rencana Biaya
Biaya adalah hal yang sangat
vital untuk kelangsungan proses produksi sebuah pembuatan film pendek ini.
e. Mencari Tim Produksi
Secara garis besar beberapa
posisi yang dibutuhkan adalah Produser (promotor yang pertama kali), penulis
skenario, sutradara, cameramen, pemain, tim property dan editor.
f. Jadwal Produksi
Jadwal produksi dibuat setelah
ada breakdown skenario, jadwal yang tersusun baik akan memperlancar dan
menghemat seluruh tenaga serta biaya produksi. Jadwal atau working schedule
disusun secara rinci dan detail, kapan, siapa saja , biaya dan peralatan apa
saja yang diperlukan, dimana serta batas waktunya. Termasuk jadwal pengambilan
gambar juga, scene dan shot keberapa yang harus diambil kapan dan dimana serta
artisnya siapa. Lokasi sangat menentukan jadwal pengambilan gambar. Hal-hal
yang perlu diperhatikan saat menyusun alokasi biaya: Penggandaan naskah
skenario film untuk kru dan pemain, penyediaan kaset video, penyediaan CD blank
sejumlah yang diinginkan, penyediaan property, kostum, make-up, honor untuk
pemain, konsumsi, akomodasi dan transportasi, menyewa alat jika tidak tersedia.
g. Hunting Lokasi
Memilih dan mencari lokasi
atau setting pengambilan gambar sesuai naskah. Untuk pengambilan gambar di
tempat umum, biasanya memerlukan surat ijin. Akan sangat menggangggu jalannya
shooting, jika dalam pertengahan shooting tiba-tiba diusir karena tidak ijin
terlebih dahulu. Dalam hunting lokasi perlu diperhatikan berbagai resiko,
seperti akomodasi, transportasi, keamanan saat shooting, tersedianya
sumber listik,dll. Setting yang telah ditentukan skenario harus
betul-betl layak dan tidak menyulitkan pda saat produksi. Jika biaya produksi
kecil, maka tidak perlu tempat yang jauh.
h. Menyiapkan Kostum dan Property
Memilih dan mencari pakaian
yang akan dikenakan tokoh cerita beserta propertinya. Kostum dapat diperoleh
dengan mendatangkan desainer khusus ataupun cukup membeli atau menyewa namun
disesuaikan dengan cerita skenario. Kelengkapan produksi menjadi tanggung jawab
tim property dan artistik.
i. Menyiapkan Peralatan
Untuk mendapatkan hasil
film/video yang baik maka diperlukan peralatan yang lengkap dan berkualitas.
Peralatan yang diperlukan (dalam film minimalis) :
·
Clipboard
·
Proyektor
·
Lampu
·
Kabel Roll
·
TV Monitor
·
Kamera video S-VHS atau
Handycam
·
Pita/Tape
·
Mikrophone clip-on wireless
·
Tripod Kamera
·
Tripod Lampu
j. Casting Pemain
Memilih dan mencari pemain
yang memerankan tokoh dalam cerita film. Dapat dipilih langsung ataupun
dicasting terlebih dahulu. Casting dapat diumumkan secara luas atau cukup
diberitahu lewat rekan-rekan saja. Pemilihan pemain selain diperhatikan dari
segi kemampuannya juga dari segi budget/pembiayaan yang dimiliki.
2. Tahap Produksi
a. Tata Setting
Set construction atau tata
setting merupakan bagunan latar belakang untuk keperluan pengambilan gambar.
Setting tidak selalu berbentuk bangunan dekorasi tetapi lebih menekankan
bagaimana membuat suasana ruang mendukung dan mempertegas latar peristiwa
sehingga mengantarkan alur cerita secara menarik.
b. Tata Suara
Untuk menghasilkan suara yang
baik maka diperlukan jenis mikrofon yang tepat dan berkualitas. Jenis mirofon
yang digunakan adalah yang mudah dibawa, peka terhadap sumber suara, dan mampu
meredam noise (gangguan suara) di dalam dan di luar ruangan.
c. Tata Cahaya
Penataan cahaya dalam produksi
film sangat menentukan bagus tidaknya kualitas teknik film tersebut. Seperti
fotografi, film juga dapat diibaratkan melukis dengan menggunakan cahaya. Jika
tidak ada cahaya sedikitpun maka kamera tidak akan dapat merekam objek.
Penataan cahaya dengan menggunakan kamera video cukup memperhatikan
perbandingan Hi light (bagian ruang yang paling terang) dan shade (bagian yang
tergelap) agar tidak terlalu tinggi atau biasa disebut hight contrast. Sebagai
contoh jika pengambilan gambar dengan latar belakang lebih terang dibandingkan
dengan artist yang sedang melakukan acting, kita dapat gunakan reflektor untuk
menambah cahaya.
Reflektor dapat dibuat sendiri
dengan menggunakan styrofoam atau aluminium foil yang ditempelkan di karton
tebal atau triplek, dan ukurannya disesuaikan dengan kebutuhan. Perlu
diperhatikan karakteristik tata cahaya dalam kaitannya dengan kamera yang
digunakan. Lebih baik sesuai ketentuan buku petunjuk kamera minimal lighting
yang disarankan. Jika melebihi batasan atau dipaksakan maka gambar akan terihat
seperti pecah dan tampak titik-titik yang menandakan cahaya under.
Perlu diperhatikan juga
tentang standart warna pencahayaan film yang dibuat yang disebut white balance.
Disebut white balance karena memang untuk mencari standar warna putih di dalam
atau di luar ruangan, karena warna putih mengandung semua unsur warna cahaya.
d. Tata Kostum
Pakaian yang dikenakan pemain
disesuaikan dengan isi cerita. Pengambilan gambar dapat dilakukan tidak sesuai
nomor urut adegan, dapat meloncat dari scene satu ke yang lain. Hal ini
dilakukan agar lebih mudah, yaitu dengan mengambil seluruh shot yang terjadi
pada lokasi yang sama. Oleh karenanya sangat erlu mengidentifikasi kostum
pemain. Jangan sampai adegan yang terjadi berurutan mengalami pergantian
kostum. Untuk mengantisipasinya maka sebelum pengambilan gambar dimulai para
pemain difoto dengan kamera digital terlebih dahulu atau dicatat kostum apa
yang dipakai. Tatanan rambut, riasan, kostum dan asesoris yang dikenakan dapat
dilihat pada hasil foto dan berguna untuk shot selanjutnya.
e. Tata Rias
Tata rias pada produksi film
berpatokan pada skenario. Tidak hanya pada wajah tetapi juga pada seluruh
anggota badan. Tidak membuat untuk lebih cantik atau tampan tetapi lebih
ditekankan pada karakter tokoh. Jadi unsur manipulasi sangat berperan pada
teknik tata rias, disesuaikan pula bagaimana efeknya pada saat pengambilan
gambar dengan kamera. Membuat tampak tua, tampak sakit, tampak jahat/baik, dll.
3. Tahap Pasca Produksi
a. Proses Editing
Secara sederhana, proses
editing merupakan usaha merapikan dan membuat sebuah tayangan film menjadi
lebih berguna dan enak ditonton. Dalam kegiatan ini seorang editor akan
merekonstruksi potongan-potongan gambar yang diambil oleh juru kamera.Tugas
editor antara lain sebagai berikut:
·
Menganalisis skenario bersama
sutradara dan juru kamera mengenai kontruksi dramatinya.
·
Melakukan pemilihan shot yang
terpakai (OK) dan yang tidak (NG) sesuai shooting report.
·
Menyiapkan bahan gambar dan
menyusun daftar gambar yang memerlukan efek suara.
·
Berkonsultasi dengan sutradara
atas hasil editingnya.
·
Bertanggung jawab sepenuhnya
atas keselamatan semua materi gambar dan suara yang diserahkan kepadanya untuk
keperluan editing.
b. Review Hasil Editing
Setelah film selesai
diproduksi maka kegiatan selanjutnya adalah pemutaran film tersebut secara
intern. Alat untuk pemutaran film dapat bermacam-macam, dapat menggunakan
VCD/DVD player dengan monitor TV, ataupun dengan PC (CD-ROM) yang diproyeksikan
dengan menggunakan LCD (Light Computer Display). Pemutaran intern ini berguna
untuk review hasil editing. Jika ternyata terdapat kekurangan atau penyimpangan
dari skenario maka dapat segera diperbaiki. Bagaimanapun juga editor juga
manusia biasa yang pasti tidak luput dari kelalaian. Maka kegiatan review ini
sangat membantu tercapainya kesempurnaan hasil akhir suatu film.
c. Presentasi dan Evaluasi
Setelah pemutaran film secara
intern dan hasilnya dirasa telah menarik dan sesuai dengan gambaran skenario,
maka film dievaluasi bersama-sama dengan kalangan yang lebih luas. Kegiatan
evaluasi ini dapat melibatkan :
·
Ahli Sinematografi.
·
Untuk mengupas film dari segi
atau unsur dramatikalnya.
·
Ahli Produksi Film.
·
Untuk mengupas film dari segi
teknik, baik pengambilan gambar, angle, teknik lighting, dll.
·
Ahli Editing Film (Editor).
·
Untuk mengupas dari segi
teknik editingnya.
·
Penonton/penikmat film.
·
Penonton biasanya dapat lebih
kritis dari para ahli atau pekerja film. Hal ini dikarenakan mereka mengupas
dari sudut pandang seorang penikmat film yang mungkin masih awam dalam
pembuatan film.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar